Tuesday, July 05, 2005

Agama

Dr. Abdullah Darraz (1894-1958 M) menulis tentang agama dalam buku yang diberinya judul: ad-Din Buhuts Mumahhidah li Dirasat Tarikh al-Adyan. Buku ini kalau mengikut slogan TEMPO, 'enak dibaca dan perlu'.

Darraz berhasil menulis soal-soal mendalam dengan bahasa yang mudah dinikmati. Beliau berhasil memainkan multi peran dalam buku ini: pemikir, da'i, guru dan penghibur.

Pengalamannya belajar lama di Universitas Sorbonne Perancis memberinya keluasan penguasaan literatur barat. Penguasaan Bahasa Perancisnya yang bagus memungkinkannya membaca karya-karya sarjana barat tentang agama. Nama-nama semacam Emanuel Kant, Auguste Comte, Emile Durkheim dan lain-lain, tidak lagi asing baginya.

Sebagaimana akar keluarga, lingkungan dan negara asalnya (Mesir), memungkinkannya menjadi sosok yang kuat dan tidak mudah silau dengan gemerlap peradaban barat. Pendidikan agama yang didapatnya sejak kecil sampai lulus dari Universitas al-Azhar memberinya bekal yang cukup untuk berdialog dengan pemikiran dan peradaban apapun.

Dua latar belakang pendidikan inilah yang terlihat sangat kuat dipamerkan buku ad-Din. Paparan Darraz dalam buku ini terasa kuat dan memikat. Kata 'mumahhidah' (pengantar) yang diintrodusirnya dalam judul buku betul-betul dibuktikannya sampai akhir buku. Untuk tema sebesar agama, pengantar setebal 259 halaman terasa wajar diberikan.

Intinya, Darraz hendak mengatakan bahwa agama memiliki akar yang dalam dan jauh dalam sejarah umat manusia, sejak ribuan tahun sebelum masehi. Agama menghunjam kuat dalam fitrah manusia. Agama terus lahir dalam komunitas manusia dari yang paling primitif hingga yang paling canggih. Oleh karena itu, setiap upaya untuk menafikan agama atau 'membunuh' Tuhan, menurutnya, selalu berakhir dengan kegagalan.

Agama lahir dari pertanyaan paling mendasar soal hidup; soal manusia, dari mana ia datang dan kemana ia bakal kembali. Agama lahir dari ketakjuban tak habis-habis terhadap ketertataan alam mikro (dalam diri manusia) dan makro (luar diri manusia) yang tidak mungkin terjadi tanpa ada yang mengatur. Agama lahir dari perburuan ujung hakikat segala sesuatu. Manusia mencarinya melalui filsafat. Manusia mencarinya melalui sihir. Tetapi manusia mendapatkan jawaban kepuasan pada agama.

Agama adalah keyakinan pada sesuatu yang maha agung, yang maha perkasa, yang maha mengetahui, yang maha suci, yang maha merawat alam ini dengan penuh perhatian, yang maha esa dan oleh karena itu, Dialah satu-satunya yang berhak disembah. Untuk itulah ritus-ritus ada. Bahkan, para penyembah batu pun sesungguhnya bukan menyembah batu kasat mata yang tidak mengerti apa-apa. Disinilah inti agama-agama manusia. Disinilah wilayah pencariannya dengan tingkat benar salah yang berbeda-beda.

Ini adalah milik bersama (qaasim musytarak) semua agama. Para pemeluk agama dengan suka rela tunduk kepada (pemilik) kekuatan yang tiada tandingnya. Kekuatan yang memaksa segala sesuatu untuk tunduk-pasrah, suka atau tidak (QS: ar-Ra’d, 15). Ketundukan suka rela ini melahirkan gerakan jiwa untuk mengagungkan, mensucikan, menyembah dan mengasyiki sang pemilik kekuatan dalam campuran rasa antara harapan dan kecemasan, antara senang dan takut di hadapan perputaran segala peristiwa. Inilah dia kondisi jiwa orang beragama.

Agama dengan demikian adalah pemenuhan terhadap tiga potensialitas manusia: potensi nalar (quwwat al-aql), potensi rasa (quwwat al-wijdan) dan potensi kehendak (quwwat al-iradah). Manusia membutuhkan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mendalamnya (ultimate questions) soal sumber kehidupan; ia membutuhkan pelabuhan bagi rasa cinta, rindu, syukur, malu, harap dst yang bersemayam di lubuh hatinya; ia membutuhkan sandaran kuat untuk menghantam keputusasaan yang kadang menderanya. Agama menyediakan fungsi-fungsi ini. Oleh karena itu, kata Darraz, kalau ada yang mendefinisikan manusia sebagai ‘hewan yang berfikir’ atau ‘hewan yang memilik watak sosial’, maka ia juga bisa disebut dengan ‘hewan yang beragama dengan tuntutan fitrahnya (hayawan mutadayyin bi fithratih)’

Bagaikan akar, agama menghunjam ke dasar terdalam dari identitas manusia. Kalau filsafat berujung pada pengetahuan, agama berujung pada iman. Kalau filsafat adalah refresentasi dari kata "tahu", maka iman memanifestasikan "rasa". Dalam jiwa, filsafat selesai sebagai pengetahuan, tetapi iman merasuk menjadi apa yang dirasakan. Alangkah jauh beda antara tahu tentang lapar dan betul-betul merasakan kelaparan.

Oleh karena itu, pertautan antara orang beragama dengan sumber segala hakikat (akhir perburuan agama dan filsafat) amat sangat kuat. Jauh lebih kuat dari yang dihasilkan oleh filsafat. Ini melahirkan komitmen yang kuat pada diri orang beragama untuk terikat dengan tuntutan kebenaran, pemeliharaan moralitas dan penjagaan kohesifitas antar sesama. Dan ini adalah jaminan kuat bagi munculnya tatanan sosial yang kokoh dan tidak mudah berai oleh guncangan dalam bentuk apapun. Sebab yang mengikat antar individu dalam masyarakat adalah ikatan ruhani.

Kata Darraz, "agama bagi masyarakat adalah sebagaimana hati bagi badan". Agama memberikan identitas sekaligus gerak hidup (hayawiyah) yang sangat kuat bagi sebuah komunitas sosial. Ini bukan hanya klaim kaum agamawan. Tetapi saintis, panglima perang dan pemimpin negara pun mengafirmasinya. Mengutip mantan Presiden Amerika, Wilson, tulis Darraz, "selama peradaban kita tidak diisi dengan spiritualitas, ia tidak akan mampu bertahan hanya dengan materialismenya. Ia tidak akan selamat kecuali jika ruh agama mengalir dalam tubuhnya…". Dalam konteks ini, Abdullah Darraz, membenarkan pendapat yang mengatakan bahwa nasionalisme yang tidak berpijak pada dataran moral dan agama yang kuat hanya sedang menunggu keruntuhannya.

Oleh karena agama adalah ‘hati’-nya komunitas manusia, maka sejarah agama adalah sejarah manusia itu sendiri. Para pakar mencoba untuk menjelaskan fenomena agama; dari mana munculnya dan kemana arah ujungnya. Disini lagi-lagi terlihat kemampuan Darraz untuk mengeksplorasi apa yang para pakar (sekaligus mazhabnya masing-masing) pernah teorikan tentang agama. Untuk menyebut sejumlah nama, di sini ada, Spencer, Tylor, Frazer, Durkheim (untuk teori evolusi dari politeisme ke monoteisme); Lang, Sheroeder, Brockelman, La Roy, Quatre Fages, Schmidt (untuk teori keaslian monoteisme). Bersamaan dengan bercabang-nya mazhab-mazhab para pakar tentang agama ini, Darraz tidak mencukupkan diri hanya dengan pemaparan, tetapi lebih dari itu kritik dan pikiran alternatif.

Itulah yang dilakukannya, ketika di pasal terakhir dari bukunya ini, Abdullah Darraz memberikan tilikan komprehensif yang dimaksudkannya sebagai alternatif dari pendapat para pakar yang sudah ditampilkan dan dikritisinya. Yang sangat menarik, ide-nya ini dirakitnya dari ayat-ayat al-Qur’an yang –meskipun tidak dikatakannya—menegaskan bahwa kita telah dicukupkan oleh al-Qur’an dari pendapat-pendapat para pakar itu, asal kita bisa membaca dan memahaminya.

Kesalahan terbesar para penganut mazhab-mazhab ini adalah ketika mereka mengabsolutkan pendapatnya masing-masing. Padahal hakikatnya, apa yang mereka tempuh adalah salah satu pintu menuju Tuhan. Oleh karena itu, dua premis yang ditawarkan Darraz adalah: 1. Bahwa tanda-tanda (ayaat) ketuhanan tersebar dalam segala sesuatu. 2. Bahwa setiap orang atau komunitas dapat menempuh jalannya sendiri dengan mengambil sebagian dari tanda-tanda tersebut untuk sampai kepada Tuhan. Dari fenomena keserbanekaan tanda dan cara inilah, al-Qur'an merangkum (bahkan menambah unsur baru) pokok-pokok pikiran yang dimunculkan oleh segala mazhab tentang ketuhanan yang pernah muncul dalam sejarah agama.

Setelah menampilkan ayat demi ayat yang menunjukkan keserbanekaan ini, Darraz berkesimpulan: "Demikianlah, al-Qur'an mempertemukan pendapat dan cara pandang para pakar yang berserak dan terpecah-pecah itu. Oleh karena itu, intelektual yang jujur tidak bakal kuasa selain mengakui bahwa ini adalah bukti baru betapa al-Qur'an bukanlah refleksi dari kejiwaan seseorang, bukan cermin dari cara berfikir sekelompok orang, bukan dokumen sejarah era tertentu, tetapi ia adalah kitab dan referensi kemanusiaan yang terbuka. Betatapapun berjaraknya tempat dan waktu; betapapun pluralnya ras, warna kulit dan bahasa; betapapun berbedanya pandangan dan kecenderungan, setiap pencari kebenaran akan menemukan di dalam al-Qur'an, jalan terang benderang yang menunjukinya kepada Allah". (h 235).

Di Lahore, Pakistan, tanggal 16 Jumad at-Tsani 1377 H/Januari 1958 M, di tengah berlangsungnya seminar internasional tentang agama-agama, secara mengejutkan, Dr. Abdullah Darraz menghembuskan nafas terakhir dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa, tetap dalam keyakinan bahwa Islam berada di garda depan dalam seruannya kepada pemeluk agama-agama untuk bergandengan tangan menegakkan keadilan, keamanan dan perdamaian dunia.

No comments: