Monday, January 07, 2008

Obama

Bintang baru bersinar terang di jagat politik Amerika. Obama. Ya Barack Obama. Senator muda (46) yang disebut media sebagai berkharisma, punya senyum menawan dan orator ulung. "Harapan" dan "Perubahan" adalah dua kata yang diusungnya untuk memikat hati pemilih Amerika.

Hari-hari ini, sampai nanti puncaknya di Bulan November, dunia akan disuguhkan pentas menarik demokrasi Amerika. Banyak orang di dunia memperhatikannya karena Amerika, bagaimanapun, masih sangat mempengaruhi dunia.

Kalau nanti Obama terpilih menjadi presiden Amerika, maka ia memberikan banyak sekali inspirasi. Ia akan menjadi orang hitam pertama sebagai Presiden Amerika, masih relatif muda, tidak berasal dari keluarga yang sebelumnya berkuasa (sebagaimana Bush dan Clinton).

Harapan dan perubahan memang boleh menjadi milik siapa saja. Itulah indahnya demokrasi. Moga-moga saja dunia politik Indonesia segera melahirkan tokoh-tokoh segar yang betul-betul menjasadkan perubahan ke arah yang lebih baik, bukan hanya dalam kata-kata, tapi dalam tindakan dan kenyataan.

Bukankah demokrasi sudah bersemi dan menjadi kebanggaan baru di negeri kita, Indonesia tercinta?

Sunday, January 06, 2008

Alamaaak!

Apakah gerangan kata mahasiswa yang pada tahun 1998 lalu sampai mengorbankan nyawa mengusung kata sakti 'reformasi' ketika melihat Pak Harto dikelilingi hormat dan simpati para petinggi negeri ini?

Apakah gerangan yang terlintas di benak para pahlawan reformasi ketika Ketua DPR bilang bahwa kasus Pak Harto tidak usah diutak-atik?

Apakah gerangan 'gremengan' batin para buruh, petani, rakyat kecil yang ikut tumpah ke jalan memaksa Pak Harto berhenti jadi presiden tahun 1998 itu?

Alamaaak, terlihat sekarang betapa perubahan mendasar yang menjadi kepentingan bersama yang menggerakkan tuntutan reformasi itu belum terjadi. Terkoreksi sekarang, agenda-agenda besar reformasi yang diusung itu. Terlihat juga, siapa yang betul-betul menginginkan perbahan mendasar dan siapa yang menunggangi kata reformasi untuk mempertahankan batang tubuh kekuasaan lama yang dulunya, katanya, otoriter dan memeras darah dan keringat rakyat banyak.

Seingat saya, di antara tuntutan reformasi ketika itu adalah adili Suharto dan bubarkan Golkar. Tapi alih-alih mengadili Pak Harto dan membubarkan Golkar, justru para kader Pak Harto masih sangat berkuasa di negeri Indonesia tercinta.

Pantas saja kalau hampir sepuluh tahun Pak Harto lengser, bangsa kita masih terseok-seok buat mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan rakyat dan menegakkan hukum tanpa pilih-pilih. Pantas saja kalau oligarki kekuasaan masih kasat mata di negeri kita. Pantas saja kalau malah ada pikiran agar demokrasi masuk kotak saja. Dan seterusnya-dan seterusnya.

Sementara dari sejak Pak SBY berkuasa, bencana alam tak henti menguji kesabaran rakyat kecil yang lama tidak diurus betul-betul kesejahteraannya. Sudah tak terbilang ongkos yang diminta; nyawa yang melayang, kerugiang uang yang bermilyar-milyar, jiwa-jiwa yang tergoncang, air mata yang tumpah bah dan trauma korban bercana yang diperhatikan serius hanya ketika bencana disorot media dan tidak terlalu penting nasibnya diperhatikan setelah sorotan media menjauh dan hingar-bingar cari popularitas selesai.

Sementara di ranah apa yang disebut sebagai kebanggaan negeri kita yaitu demokrasi dengan pemilihan langsung , uang bermilyar-milyar ditebar tak kenal kepantasan moral dan empati kepada rakyat miskin. Berani sekali calon-calon kepala daerah atau negara misalnya mengeluarkan uang bermilyar-milyar untuk merebut kekuasaan. Layakkah sebenarnya negara dan rakyat kita miskin dan tidak dapat pekerjaan di tengah begitu dermawannya sang calon dan derasnya uang mengalir demi merebut kursi kekuasaan?

Sampai berapa lama lagikah negeri kita salah urus dan salah arah? Sampai berapa lama lagikah rakyat bisa disuguhkan ketidakjujuran dan diatasnamakan demi kepentingan segelintir orang dalam lingkaran oligarki kekuasaan? Sementara alam terus-menerus memberi peringatan agar kita sebagai bangsa bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

Entah kepada siapa seruan pelurusan arah perjalanan bangsa dengan pemimpin-pemimpin yang jujur dan betul-betul berpihak kepada rakyat dan generasi Indonesia masa depan harus dialamatkan. Dalam situasi yang serba abu-abu dan ketidakjelasan identitas, siapa pembajak dan siapa pengabdi, seperti ini, suara penderitaan rakyat agar dibela betul-betul sulit harus dialamatkan dan dipercayakan kepada siapa.

Kelihatannya, mahasiswa dan kaum muda yang berlum terkontaminasi virus kekuasaan yang oligarkis perlu kembali merapatkan barisan dengan menutupi kekurangan gerakan 1998. Jangan biarkan lagi ada pembonceng di tengah jalan dan pahlawan kesiangan. Jangan biarkan lagi gerakan hanya mengusung ide besar tapi miskin konsep implementasi yang lebih riil di tingkat penyelenggaraan negara, kalau tidak mau gurita kekuasaan yang sudah dibangung orde baru selama puluhan itu kembali menjulur kemana-mana dan menguasai setiap jengkal kekuasaan di negeri ini.

Monday, December 31, 2007

Tahun Baru

Selamat Tahun Baru 2008

Saturday, December 29, 2007

Pembunuhan Politik

"Jahat sekali!". Itulah geram batinku ketika aku tahu Benazir Bhuto dibunuh. Cara bersaing paling primitif masih juga dipertontonkan di panggung dunia hingga hari ini.

Entah dunia ini perlu berapa ribu tahun lagi untuk menjadi betul-betul beradab, menghargai nyawa manusia agar tidak dilenyapkan oleh manusia yang lain, agar manusia berhenti memangsa manusia.

Darah tumpah karena ambisi dan perebutan kuasa memang belum juga sirna hingga abad ke-21 ini. Cobalah kita tengok, berapa nyawa melayang, --tidak usah terlalu jauh-- sejak perang dunia I, II, perang teluk I sampai III dan perang-perang terbatas antar negara seperti Somalia vs Etiopia, Turki vs Kurdi, dll.

Benazir Bhuto menambah panjang daftar pemimpin yang menjadi martir bagi perjuangannya. Ayahnya dihukum mati rezim berkuasa ketika itu. Di Iraq, Saddam Hussein mati di tiang gantungan. Rafeeq al-Hariri, mantan Perdana Menteri Lebanon, mati dibom.

Sampai kapan gerangan dunia politik kekuasaan digenangi darah mereka yang menjadi korban persaingan kepentingan politik? Jahat sekali politik kalau harus dibayar dengan darah apa yang semestinya bisa dikontestasikan secara damai dan demokratis.

Kelihatannya perlu ada resolusi untuk dunia yang bebas dari pembunuhan politik. Ayo para pemimpin dunia lakukan sesuatu untuk menghentikan pembunuhan politik yang jahat dan biadab dimanapun di dunia ini!

Wednesday, October 31, 2007

Kembali Menulis

Maaf jika beberapa bulan belakangan ini, saya menghilang dari peredaran. Saya balik kampung di lombok NTB untuk beberapa lama.

Dua hari lalu, saya kembali ke Maroko untuk melanjutkan pekerjaan yang terhenti. Saya kembali menulis, menulis apa saja yang melintas di benak dan menggenang di hati.

Thursday, February 01, 2007

Ruang Kosong

Entah mengapa ide tentang ruang kosong terus menggenangi otakku beberapa minggu terakhir.

Pesannya adalah: "hati-hati dengan ruang kosong!"

Ketika perang dingin berakhir, Uni Soviet yang runtuh meninggalkan ruang kosong. Russia yang mencoba bangkit dari reruntuhan atau Eropa, pemain tua yang mencoba mengkonsolidasi ulang kekuatannya dengan Uni Eropa, tidak mampu mengisi ruang kosong itu. Amerikalah kemudian yang mengisinya dan menjadi pemain tunggal yang sombong dan menghancurkan.

Ketika rezim Saddam Hussein tumbang dan pemerintahan baru Irak tidak kunjung stabil dan kuat, Iran masuk mengisi ruang kosong. Iran memasuki Irak tidak hanya ingin tebar pengaruh di sana, tetapi menjadi pemain yang semakin berbobot di kawasan timur-tengah. Rezim George W. Bush kelimpungan menghadapi kondisi kemananan Irak yang terus bergolak menumpahkan darah.

Kata Amer Taheri, penulis kolom langganan di Harian Assyarqul Awsath, politik membenci ruang kosong. Pilihannya, kalau anda tidak ingin mengisinya, orang lain mau tidak mau pasti mengisinya.

Saya kira, rumus ini berlaku tidak hanya untuk dunia politik. Dunia fisika, kebudayaan bahkan agama sekalipun mengenal rumus serupa. Bukankah, air yang mengalir dari atas ke bawah, pasti menggenangi setiap ruang kosong yang belum terisi?

Kotak televisi kita penuh sesak oleh tayangan mistis, infotainment, berita kriminal dan obrolan esek-esek yang tidak mendidik dan tidak menaikkan derajat kemanusiaan, saya kira, karena ia gagal diisi oleh tayangan alternatif yang mendidik, mencerahkan, menghibur dan secara bisnis menguntungkan.

Dai-dai karbitan (istilah Mufti Mesir, Syekh Ali Jum'ah, "annujum azza'ifah": bintang palsu) dengan kualitas ilmu dan akhlak yang meragukan banyak muncul di ruang publik kita karena ada ruang kosong yang menampung mereka. Kiai-kiai mumpuni tidak tampil menyapa publik dengan bahasa yang dipahami oleh nalar awam. Mereka membiarkan ruang kosong itu diisi bintang-bintang artifisial itu.


Saya melihat banyak ruang dibiarkan kosong dan disiisi oleh sesuatu yang lebih sering destruktif ketimbang konstruktif.

Wednesday, January 31, 2007

Kebahagiaan

"Perasaan tenteram hampir terus menerus di dalam jiwa". Dr. Adnan Syarif, penulis buku "min ilm an-nafs al-qur'ani", mendefinisikan kebahagiaan.

Menurutnya, kebahagiaan macam ini hanya bisa dicapai ketika seseorang terbebas dari empat penyakit jiwa: komplikasi takut kematian, komplikasi keterkekangan seksual, komplikasi kekurangan fisik dan komplikasi kekurangan materi.

Empat penyakit inilah yang mewabahi manusia abad ke-21 ini. Komplikasi kekurangan materi melahirkan jiwa-jiwa yang kikir; komplikasi kekurangan fisik melahirkan manusia yang tidak pernah menerima diri sendiri; komplikasi keterkekangan seksual melahirkan para pengumbar syahwat dan komplikasi takut kematian melahirkan manusia yang –seperti penderita AIDS- kehilangan imunitas dari serangan penyakit-penyakit jiwa atau raga.

Usaha para ahli jiwa untuk mengobati empat komplikasi ini, menurut Adnan Syarif, banyak yang gagal karena mereka tidak berhasil mengobati akar penyakitnya, yaitu komplikasi takut kematian. Ia menyebut Sigmund Freud, pakar psikoanalisis, sebagai contoh betapa resep pengobatan penyakit jiwa yang ditawarkannya gagal menyentuh akarnya. Selama penghadapan terhadap kematian tidak menemukan solusi yang memuaskan, selama itu pula seseorang tidak bakal terbebas dari penyakit jiwa, ringan atau parah.

Penyikapan Islam terhadap kematian, menurutnya, adalah solusi paling tepat untuk mengurai komplikasi takut kematian itu. Apa sebab?. Karena Islam mengajarkan bahwa kehidupan yang sesungguhnya, bukan di dunia ini, tetapi di akhirat nanti: kehidupan setelah kematian. Maka sebagai alternatif kehidupan sementara ini, Islam meletakkan idealisme untuk meraih kehidupan sebaik-baiknya setelah kematian sebagai prioritas utama seorang muslim.

Akibatnya, segala kondisi jiwa dan raga yang dialami selama di dunia ini, akan didedikasikan sepenuhnya oleh seorang muslim yang benar demi kehidupan setelah kematian. Kematian lantas menjadi semacam pintu gerbang atau jembatan emas untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Inilah sumber ketenteraman yang hampir terus menerus itu. Dan itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Cobalah anda membaca buku ini. Saya kira, anda akan menemukan satu perspektif baru yang menjadikan kita enjoy menjalankan hidup ini, apapun situasinya.

Monday, January 29, 2007

Meluas dan Menyempit

Saya kira, lebih banyak orang yang menyempitkan hidupnya ketimbang memperluasnya.

Berapa banyak orang yang melihat bumi ini hanyalah sekedar sebutir kacang hijau di keluasan jagat raya yang lebih banyak misterius ketimbang yang sudah diketahui secara ilmiah?

Berapa banyak orang yang tidak terjebak pada ukuran-ukuran material yang sempit dalam pergaulan kehidupannya untuk memetakan hubungan diri dengan alam, orang lain dan Sang Pencipta?

Berapa banyak orang yang bertahan pada tempurung keterbatasan: pengetahuan, ruang gerak, sumber pencaharian, gapaian spiritual tertentu dan berhenti bergerak atau berhenti melompat untuk meraih cakrawala yang lebih luas dan multi dimensional?

Berapa banyak orang yang memilih kolam kecil yang melenakan ketimbang lautan luas yang menampung apa saja termasuk ciptaan Tuhan yang paling besar di bumi ini?

Berapa banyak orang yang memilih kesenangan sementara dan terbatas di dunia ini dengan mengorbankan kebahagiaan abadi dan tanpa batas di kehidupan akhirat kelak?

Berapa banyak orang yang terjebak pada komplikasi penyakit jiwa yang bernama takut kematian, mengumbar nafsu seksual, memelihara kekikiran dan mengurung diri pada kekurangan-kekurangan jiwa raganya yang seluruhnya menyempitkan hidupnya ketimbang memilih jihad, kehormatan diri, memberi dan menyenangkan sebanyak mungkin orang yang seluruhnya memperluas dan memberikan kebahagiaan hakiki?

Saya kira, lebih banyak yang memilih kesenangan sementara yang menyempitkan ketimbang kebahagiaan langgeng yang meluaskan. Itulah sebabnya, manusia wajib terus belajar sepanjang hidupnya untuk memperluas cara pandangnya sampai pada horizon terluas yang mungkin dicapainya. Lantas, kenapa banyak orang berhenti belajar dan mencari kemapanan-kemapanan? Kemapanan adalah lonceng kematian, sebagaimana darah yang berhenti mengalir menandakan maut yang segera datang menjemput.

Saturday, January 20, 2007

Tahun Baru: Melongok ke Dalam

Apa artinya tahun baru 1428 H bagi umat Islam?

Seperti biasa, tidak terlalu banyak yang peduli dengan tahun baru hijriyah. Tidak ada film dibuat, tidak ada terompet diproduksi, tidak ada jubelan masyarakat di tempat-tempat umum untuk menunggu dan merayakan detik pergantian tahun, tidak ada blow up media besar-besaran. Apakah masih ada yang menjadikan pergantian tahun baru Islam ini sebagai titik perenungan untuk perbaikan?

Entahlah. Paling-paling yang diselenggarakan adalah perayaan seremonial formalitas yang mengusung spanduk SELAMAT TAHUN BARU 1428 H, pidato pejabat dan ceramah secukupnya. Tahun baru Islam seringkali gagal menjadi tonggak perubahan.

Bukankah perubahan mendasar, radikal, reformatif –atau apapun namanya—itu yang sangat didambakan bangsa Indonesia? Perubahan yang gegap gempita diteriakkan di jalan-jalan pada 1998. Yel-yel yang sempat membangkitkan optimisme dan harapan besar bangsa Indonesia untuk kembali bangkit di atas basis yang lebih sehat. Lebih sewindu roda perubahan itu menggelinding terseok-seok dan kini terancam macet atau boleh jadi mundur.

Kalau umat Islam saja dari 200 juta lebih penduduk Indonesia berubah, pasti wajah ibu pertiwi kembali cerah. Tetapi menilik wajah umat Islam Indonesia atau dunia Islam secara umum setahun kemarin menjadikan kita harus menahan nafas optimisme itu. Bagi saya, gambar dunia Islam masih mendung cenderung bergerak ke gelap.

Dari mana kita mesti merunut? Tadinya, terus terang, saya bangga dengan Hizbullah, namun kebanggaan itu segera saja menguap. Kalau saja Hizbullah tetap di posisi menjadi benteng dunia arab atau Lebanon secara khusus dari serangan Israel, seperti yang ditunjukkan pada pertarungan heroik dalam perang 34 hari itu, niscaya simpati bangsa Arab akan tetap dalam genggamannya. Namun sayang, Hizbullah kini bermain day today politic di arena dalam negeri Lebanon dengan mengerahkan massa dan menggunakan simbol-simbol agama. Bulan-bulan belakangan adalah hari-hari pertarungan politik kekuasaan yang mecemaskan dalam konstelasi politik dalam negeri Lebanon.

Bergeser ke Palestina membuat kita bakal menemukan pemandangan yang lebih memilukan. Dalam situasi pendudukan dan terus menjadi target tank-tank dan pesawat tempur Israel, faksi Hamas dan Fatah mulai bertarung terbuka, bahkan dengan kontak senjata. Darah anak bangsa Palestina, mengapa mesti tumpah oleh bedil saudaranya sendiri? Politik kekuasaan memang seringkali membutakan mata hati dan akal sehat.

Iraq adalah cerita tragedi peradaban manusia abad ke-21. Kemarin Amien Rais, mantan Ketua MPR RI itu, menulis (di Kompas) tragedi ini dengan lugas dan menusuk. Setiap hari, nyawa orang-orang tak berdosa melayang disana. Bau mesiu bercampur darah dan kebiadaban menyengat sangat kuat. Bedil Amerika, milisi Jaisy al-Mahdi, kelompok ekstrim Sunni tak henti-henti menyalak mencari mangsa. Situasinya sangat komplikatif. Tidak jelas betul siapa makan siapa. Tahun-tahun ini, saya kira, Iraq masih akan terus terluka.

Kemana lagi kita mesti menoleh? Sudan masih tarik menarik dengan PBB yang hendak menurunkan tentara penjaga perdamaiannya di Darfur yang masih menderita kelaparan. Somalia masih mencekam setelah kekuatan Mahakim dipaksa meninggalkan kekuasaan oleh rezim lama yang kembali dengan bantuan kekuatan Etiopia dan Amerika. Dua negara muslim Afrika ini masih harus berhadapan dengan situasi yang labil.

Rezim yang labil dengan kondisi keamanan dan ekonomi yang carut marut atau rezim yang sangat kuat dengan kontrol yang tidak memungkinkan kekuatan tandingan menjadi dua ciri menonjol negara-negara muslim sampai dengan pergantian tahun ini. Raja Abdullah Saudi Arabia memang terlihat lebih progressif dalam pembangunan sosial ekonomi Arab Saudi. Proyek-proyek ekonomi berskala besar banyak diluncurkan, anggaran pendidikan dinaikkan, santunan sosial masyarakat miskin dinaikkan, bahkan anggaran pembelian alat-alat militer baru juga dicairkan. Ada penyegaran geliat ekonomi yang kentara di Arab Saudi beberapa tahun belakangan. Geliat serupa bisa kita lihat di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Oman, Kuwait dan Maroko. Namun, semua itu sangat bergantung niat baik raja atau sekelompok penguasa. Ketika raja atau keluarga yang berkuasa berubah atau melampaui batas, siapa yang bisa mengontrol? Tidak ada!. Kalaupun ada, kontrol biasanya sangat lemah.

Tipe kedua ini berlaku juga untuk Mesir, Yordania, Suriah dan Iran dengan pembangunan ekonomi yang lebih lambat. Dua negara terakhir, Suriah dan Iran, menarik untuk diperhatikan karena sangat menentukan konstelasi ketegangan di kawan timur tengah dan sekitarnya. Suriah memang mulai keluar dari titik peran tradisionalnya. Iran lah yang memainkan peran sangat signifikan dalam perubahan konstlasi ini. Suriah yang tadinya termasuk jaringan Mesir, Arab Saudi yang kompromi dengan Amerika, kini lebih dekat ke Iran. Sepak terjang Iran Lebanon, Iran dan ketegangan yang diakibatkan proyek nuklirnya menjadi panorama kental dunia politik-militer-diplomasi di kawasan ini. Saya kira, Iran masih akan bermain waktu dengan retorika melawan melawan hegemoni Amerika tahun-tahun ke depan.

Lantas, apa artinya semua ini bagi umat Islam di tahun barunya?. Terlalu muluk untuk berharap umat Islam bersatu diikat oleh keislamannya untuk dibumikan di dunia realitas. Terlalu banyak palang rintang sejarah yang harus dilompatinya. Kalau memang harus berharap –karena tidak putus asa--, setidaknya tahun ini bisa menggungah bahwa Islam lah harta paling berharga yang kita miliki. Tidakkah kita mencoba untuk kembali mendalaminya buat mengarungi masa depan yang memang tidak mudah?

Thursday, January 18, 2007

Gawat Darurat

Lompatan besar seringkali lahir dari situasi gawat darurat.

Bangsa Belanda menghasilkan insinyur-insinyur konstruksi bendungan nomor wahid di dunia karena mereka harus berjuang mempertahankan hidup. Posisi negeri mereka yang di bawah permukaan laut, membuat negeri mereka setiap saat diintai bahaya terendam air. Situasi gawat darurat memaksa mereka memeras otak untuk ‘menaklukkan’ alam yang ganas. Mereka kini berhasil bersahabat dengan air dengan bendungan-bendungan super canggihnya.

Anis Manshur, penulis kolom harian di Koran As-Syarq Al-Awshat, menyebut bahwa manusia nomaden sangat menguasai seni tidur. Ketika mereka hidup di hutan atau di padang terbuka, hidup mereka setiap saat terancam serangan binatang buas. Mereka menjadi pintar memilih tidur singkat, tidak ngorok, mengajari anak-anak mereka untuk tidak menangis keras di malam hari, dst. Mereka berperilaku disiplin berhadapan dengan situasi gawat darurat.

Israel boleh jadi contoh paling segar. Negeri berpenduduk 5 jutaan orang ini setiap saat mempertaruhkan eksistensinya di harapan negeri-negeri arab berpenduduk 350 jutaan orang. Mereka bekerja keras memperkuat sistem pertahanan, membangun senjata nuklir, menjaga pengaruh lobi internasional dan berhitung stragtegi detik ke detik dengan musuh-musuhnya. Mereka sangat menguasai seni bertarung secara terbuka atau tertutup di panggung politik-militer internasional.

Saya ingin mengatakan, rasa gawat darurat itulah yang hilang, terutama dari pemimpin-pemimpin Indonesia. Ketika bencana datang tanpa henti, kecelakaan darat, laut dan udara menghantam negeri, kemiskinan tak kunjung beranjak dan penyakit fisik dan mental yang masih mewabah, para pemimpin kita masih bersikap biasa-biasa saja, ada yang asyik pesiar ke luar negeri, ada yang sibuk menaikkan gaji dst. Seolah-olah segala sesuatu berjalan dengan baik.

Saya kira, perlu diumumkan situasi gawat darurat ke seluruh penjuru negeri untuk semua level kehidupan kita. Situasi kita tidak biasa. Perlu kerja keras ekstra dari seluruhnya. Kerahkan semua potensi bangsa untuk mengatasi masalah dan melompat setinggi-tingginya. Modal inilah yang dulu menjadi mesin kita meraih kemerdekaan. Tidak bisakah kita menggunakannya kini untuk menaikkan derajat bangsa kita: agar keadilan sosial, kesejahteraan, kecerdasan dan masa depan gemilang, bukan hanya berbusa-busa di mulut para politikus ketika pemilu, tetapi betul-betul dirasakan oleh seluruh bangsa Indonesia.

Bagaimana menurut anda?

Wednesday, November 22, 2006

Intelektual Kritis

Hidup terus bergerak karena selalu ada jarak antara harapan dan kenyataan.

Sejak abad ke-5 sebelum masehi Plato 'bermimpi' tentang sebuah negara yang dipimpin oleh seorang filosof. Seorang kepala negara yang lulus dari perkaderan panjang dalam sebuah masyarakat sosialis; dari pembentukan fisik, 'install' pengetahuan, eksperimentasi bergulat dalam masyarakat sampai dengan penanaman-pemuaian kearifan-kearifan. Seorang pemimpin yang sudah selesai berproses dari terminal ke terminal yang sulit sehingga tidak memiliki pamrih untuk pribadi. Ia hidup, berpikir dan berangan-angan hanya semata untuk masyarakat-nya. Negara Plato memang indah untuk dibayangkan. Negara yang dinamakannya: Jumhuriya.

Al-Farabi 'bermimpi' lebih jauh. Negara yang disebutnya 'al-Madinah al-Fadlilah' (negara utama) mesti dipimpin oleh seorang filisof yang memiliki juga kualitas kenabian. Baginya persamaannya adalah Filosof=Nabi. Iya, seorang pemimpin yang tidak hanya melambangkan pucuk struktur sosial kasat mata tetapi juga pucuk kualitas kepemikiran yang mengantarkannya di batas tertinggi kemampuan manusia untuk sampai pada serial mata rantai 'faidl', emanasi yang mesti dilalui seluruh alam semesta untuk sampai ke dunia nyata.

Gambaran-gambaran ini memang lebih asyik digambarkan di alam ide ketimbang ditemukan di alam nyata. Namun sekali lagi, itulah yang menjadikan hidup terus bergerak. Itulah yang menjadikan para pemilik ilmu dan kearifan terus berada dalam pergulatan dengan kekuasaan.

Tahun lalu, Aku sempat pergi ke Iran. Satu hal yang bagiku paling mengesankan di negeri ini adalah ulama-nya yang begitu ber-power. Ulama-lah yang menentukan merah-hitam negeri itu. Namun begitu, bangsa Iran (syiah-nya) masih menunggu Imam Mahdi, sang ratu adil yang menjadi ideal mereka. Maka hidup terus bergerak mengejar idealitasnya.

Selebihnya di banyak negara, para pemilik ilmu (ulama, ilmuan, intelektual) terus begulat dan berbagai formula dengan kekuasaan. Kenapa?. Karena mereka memanggul amanat untuk menggiring masyarakatnya menuju idealitas-idealitas.

Dalam apapun bentuk penampakan dan penggunaan kekuasaan, Intelektual selalu muncul: mengafirmasi, menyediakan perangkat justifikasi, mengkritisi atau menolak dan memberontak.

Samuel P. Huntington muncul untuk 'mengompori' benturan-benturan besar yang terjadi di dunia kita sekarang. Kabarnya, Einstein menyesal menemukan bom atom yang digunakan pada perang dunia II dan menyisakan tragedi kemanusiaan yang luar biasa. Antonio Gramsci berbicara tentang dua jenis Intelektual: Tradisional dan Organik untuk menyatakan dengan yang kedua keharusan kaum intelektual untuk terlibat aktif dalam perubahan masyarakatnya.

Tapi kemarin pagi, Aku membaca tulisan Hasyim Shalih di kolom opini Koran as-Syarqul Awsath yang mengulas dengan memikat apa yang disebutnya "intelektual kritis". Makhluk apalagi ini? Menurutnya, kaum intelektual tidak cukup hanya terlibat kemana arah masyarakat bergerak, tetapi lebi dari itu mengkritisi diri masyarakatnya untuk menampakkan penyakit diri sendiri agar tidak terus semakin karam dalam kesalahan yang dimamah biak dari generasi ke generasi. Ia menunjuk konflik Arab-Israel yang berkepanjangan dan tidak menemukan penyelesaian oleh sebab kelompok besar dari kedua belah pihak (termasuk kaum intelektual) masih tidak bisa mengakui eksistensi pihak lain dan tidak mau mengakui kesalahan diri sendiri. Di sinilah, menurutnya peran penting kaum intlektual kritis untuk melawan arus besar masyakatnya demi masa depan yang lebih baik.

Aku belum paham persis apakah jenis intelektual kritis ini ada di masyarakat kita di Indonesia. Tren yang saya lihat adalah para intelektual ramai-ramai terlibat di partai, birokrasi, kampus atau organisasi keagamaan-kemasyarakat untuk menjadi bagi yang menyusun konsepnya atau menjadi pelaku konsep itu sekalian. Aku belum melihat munculnya kaum intelektual yang serius dan konsisten menjadi bagian yang mengkritisi kesalahan-kesalahan kaprah yang dianggap sebagai 'recieved ideas' di masyarakatnya dan menyusun masa depan masyarakatnya atas basis keilmuan, peradaban dan kearifan yang kuat.

Apakah karena masing-masing kita belum bisa melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan pribadi jangka pendek kita?. Atau karena memang masyarakat menuntut demikian?. Dan kita pun, kaum intelektual, terjebak mengiyakannya?

Monday, November 13, 2006

Seni Merenung

Harun Yahya menulis buku "Seni Merenung". Aku membaca versi Arab-nya berjudul "Fan at-Taammul".

Kalau pembaca buku ini jujur maka ia pasti tersentil oleh buku ini. Aku merasakan membacanya seperti minum Sprite di siang bolong saat kehausan, ada tusukan-tusukan kecil yang mengasyikkan di tenggorokan. Buku ini menyisakan tusukan-tusukan kecil di hati untuk membuatnya kembali sadar agar balik ke kebeningan awalnya.

Harun Yahya berbicara tentang laba-laba yang merajut jaringan terkuat di dunia sebagai kediamannya. Ia berbicara tentang nyamuk kecil yang mampu mengepakkan sayapnya dengan amat cepat dan desain yang membuatnya bisa bergerak ke segala arah dengan enteng. Satu desain yang kalau bisa diaplikannya pada teknologi pembuatan helikopter, maka ia akan menjadi amat sangat canggih.

Harun Yahya masih berbicara tentang banyak obyek lain yang sangat kita akrabi sebagai tema perenungan. Segala sesuatu, sebenarnya, kalau direnungkan, akan mengantarkan seseorang kepada penciptanya. Mengakui kemahabesaran-Nya dan mensyukuri karunia-karunia-Nya.

Aku jadi teringat dengan Ibnu Rusyd yang mengajukan teori 'ibda' (kreasi) sebagai perangkat argumentatif untuk membuktikan adanya Tuhan. Sebuah teori yang dengan memikat dijelaskan oleh Nadim al-Jisr dalam buku "Qisshat al-Iman"-nya.

Segala keteraturan, kedetailan, kecanggihan, keindahan, guna, yang terdapat pada segala makhluk di cakrawala ini dan relasi indah yang tertaut diantara mereka, tidak bakal ada tiba-tiba tanpa ada yang mengadakan dan mengaturnya. Dengan melongok ke dalam organ jasmaninya saja, seseorang yang jujur dan pintar merenung, pasti sampai pada Tuhan-nya. Maka biasanya, para ilmuan yang jujur pada ujungnya tidak kuasa untuk tidak mengakui ada kekuasaan luar biasa yang mengatur kerumitan, kecanggihan dan ketertataan jagat raya ini. Dan itulah Allah yang esa, berkuasa, penuh kasih, tiada sekutu bagi-Nya.

N.B: Anda bisa membaca karya-karya Harun Yahya di website-nya: www.harunyahya.com

Tuesday, November 07, 2006

Karya-karya dari Penjara

Tidak baik menjalani hari-hari yang terlalu bising. Kebisingan sering mengikis kebeningan. Itulah sebabnya, banyak karya besar lahir dari penjara.

Pramoedya melahirkan karya-karya besarnya dari Pulau Buru. Aidl al-Qarni menulis 'La Tahzan'-nya di penjara. Antonio Gramsci matang secara intelektual dari penjara ke penjara. Ibnu Taimiyah melahirkan 'Fatawa'-nya di penjara. Sayyid Qutb menulis Tafsir Fi Dzilal al-Qur'an-nya, juga, di penjara. Mereka yang hendak melahirkan karya besar, banyak yang memilih 'memenjarakan' diri.

Imam Ghazali mengasingkan diri dari hiruk pikuk Ibu Kota Bagdad untuk kemudian melahirkan 'Ihya Ulumuddin'. Gandi 'memilih' penjara untuk berdialog secara bening dengan batinnya demi menggali hikmah. Lahirlah kemudian konsep-konsep perjuangan anti kekerasan-nya yang memerdekakan Bangsa India. Nadzim al-Jirs mendiktekan 'Qishat al-Iman'-nya di masjid yang 'memenjarakan'-nya untuk total bermunajat dengan Tuhan.

Kebeningan mata batin menjadi barang langka di tengah banjir bandang informasi dan gempita serbuan media di dunia tanpa sekat sekarang ini. Tontotan di layar TV lebih banyak mengeruhkan ketimbang membeningkan. Semboyan hidup dipaksa berubah dari 'al-baqa' lil ashlah' menjadi 'al-baqa' lil asra'. Bintang-bintang palsu di segala bidang terus diciptakan media: merusak dan membingungkan.

Aku jadi ingat Prof.Dr. Said Agil Munawwar. Berkaryalah ustadz! Banyak karya besar lahir dari penjara.

Monday, November 06, 2006

Iya

Bisakah hidup terus menerus bercahaya? Dulu aku mengandaikannya bisa. Tapi ternyata tidak!

Itulah sebabnya siang berganti malam. Musim berganti dua atau empat kali setahun. Real Madrid mengecewakan dua musim sebelum ini. Barcelona mulai kelihatan jenuh musim ini. Peradaban Islam berjaya di abad pertengahan dan kemudian redup. Amerika pun kini mulai bergerak turun dari puncak.

Hidup memang tidak terus menerus berisi kisah jaya, bergairah, bersemangat, sukses, menang. Hidup juga bakal bertemu kejenuhan, rapuh, stagnan, gelap bahkan lepas kendali.

Lantas kenapa mesti diratapi kalau magrib datang dan sebentar lagi malam menjelang? Kenapa mesti gelisah kalau kejenuhan atau bahkan kegagalan menyapa? Kenapa mesti merasa seolah-olah tidak berguna ketika harapan-harapan tak kesampaian?

Bukankah setiap pergantian hidup mengandung tanda? (atau ayat persisnya). Bukankah malam datang untuk membalut manusia agar beristirahat memberikan hak badan untuk tidak terus berputar?. Agar hidup tertata rapi dan tidak kacau. Tidak baik memaksakan terlalu banyak angan-angan. Angan-angan yang kebanyakan 2/3-nya membuat seseorang menjadi pengecut.

Barangkali ada baiknya, seperti Nietzche, berkata 'iya' untuk segala perubahan apapun yang datang menghampiri.

Friday, October 27, 2006

Will Durant

Sebuah potret intelektual par exellent. Beliau meninggalkan bekerja mengajar di usia muda. Lantas menseriusi proyek besarnya: Sejarah Peradaban (The Story of Civilization) sampai usia 96 bersama istri tercintanya: ARIEL. Hampir seluruh belahan dunia dikunjunginya. Perhatiannya membentang dari ribuan tahun sebelum masehi pada peradaban timur sampai dengan abad ke-19 masehi di peradaban Eropa modern. Membentang dari sisi ekonomi, militer, kebudayaan, keilmuan, sampai dengan gaya hidup bangsa-bangsa. Seorang lelaki yang menuntaskan pekerjaan yang belum tentu bisa dituntaskan ribuan orang. Ya, Will Durant.

Aku menyukai tulisan-tulisannya. Refleksinya yang jernih dan jujur. Horizonnya yang luas. Pesan kemanusiaannya yang dalam dan abadi. Kita butuh orang macam Will di setiap masa untuk menjadi guru bagi semua.

Monday, October 23, 2006

lebaran

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Monday, September 25, 2006

Membangun dengan Keteladanan

Sejarah membuktikan bahwa pendidikan yang paling berhasil adalah pendidikan dengan keteladanan.

Saya senang dengan contoh hidup bersahaja yang diberikan beberapa tokoh negeri ini.

Wakil Presiden RI, Bapak Yusuf Kalla, melakukan kunjungan kenegaraan dengan pesawat komersial. Sebelumnya, Ketua MPR, Bapak Hidayat Nur Wahid, menghembuskan spirit hidup bersahaja dengan menolak mobil dinas mewah dan fasilitas berlebihan dalam kunjungannya ke daerah-daerah. Saya juga salut dengan kebersahajaan Dubes RI untuk Kerajaan Maroko, Bapak Sjahwien Adenan.

Keteladanan semacam ini sangat penting menjadi basis kemandirian bangsa dan upaya mensejahterakan rakyat. Sumber keagamaan, peradaban dan filsafat sering menyebut pemimpin sejati sebagai refleksi dari kondisi riil masyarakatnya. Untuk menyebut contoh, Nabi Muhammad, hidup tidak lebih dari cara hidup umatnya yang paling tidak mampu. Tokoh Mahatma Ghandi, India, atau Imam Khomeini, Iran, memilih kesederhanaan sebagai prinsip hidup yang disetiainya. Para pemimpin dan tokoh sepanjang masa membangun kebesarannya tidak dari kemewahan material.

Kata sebuah kearifan, 'mimpi orang biasa adalah untuk dirinya sendiri, tetapi mimpi orang besar adalah untuk orang lain'.

Kalau saja prinsip kebersahajaan ini dimiliki oleh seluruh pemimpin Bangsa Indonesia di semua level, saya kira kesejahteraan untuk semua tidak bakal menunggu terlalu lama untuk menjadi kenyataan.

Semoga saja spirit yang dihembuskan oleh Pak Yusuf Kalla atau Pak Hidayat Nur Wahid bisa menjadi contoh yang baik bagi para elit yang lain.

Sunday, September 24, 2006

RAMADLAN KARIM

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADLAN

Sunday, September 17, 2006

Syarat Kepemimpinan

Kata Qur’an, ada tiga senjata yang Tuhan berikan ke Nabi Dawud untuk menjadi pemimpin: kekuasaan, kearifan dan pengetahuan. Ternyata memang, betapa butuh pemimpin di level manapun terhadap tiga senjata ini.

Pemimpin harus punya kekuasaan, sebab tanpa kekuasaan, suaranya tidak akan didengar. Kekuasaan harus lahir dari legitimasi, sebab tanpa legitimasi, kekuasaan tercerabut dari sukma rakyat.

Kekuasaan harus dibarengi kearifan. Sebab jika tidak, ia akan berubah menjadi sumber petaka. Sumber keserakahan, angkara murka, kezaliman. Kekuasaan tanpa kearifan adalah pedang maha tajam di genggaman raja penyamun.

Lantas, ilmu pengetahuan bertugas menterjemahkan semangat kekuasaan yang dibalut kearifan menjadi kerjanyata mensejahterakan semua.

Wednesday, August 30, 2006

Belajar dari Hizbullah

Sayyid Hasan Nasrullah. Nama ini menjadi buah bibir bangsa Arab-Islam akhir-akhir ini. Ia bukan lagi sekedar tokoh Syiah tetapi telah melompat menjadi simbol perlawanan bangsa Arab terhadap pendudukan Israel dan hegemoni Amerika.

Perang 33 hari itu telah menunjukkan banyak hal. Pertama, citra militer Israel sebagai kekuatan paling besar dan tak terkalahkan di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya runtuh oleh perlawanan heroik milisi Hizbullah. Kedua,proyek "Timur Tengah Raya" Amerika di kawasan ini semakin sulit menyentuh bumi kalau tidak bisa dibilang gagal. Ketiga, terjadi pergeseran aliansi politik dengan setidaknya dua kekuatan besar: Hizbullah-Hamas-Suriah dan Iran di satu pihak dan Yordania-Saudi Arabia dan Mesir di pihak lain. Singkatnya, yang pertama kontra Amerika dan yang kedua pro Amerika.


Hizbullah membuktikan diri bisa melawan Israel (dan Amerika di belakangnya) di semua level: operasi militer, kecanggihan intelijen, payung politik, perang media, kekuatan uang, dukungan opini publik dan --sebagai basis dari semuanya-- kekuatan ideologi.

Awalnya, Hizbullah menawarkan solusi politik untuk pembebasan dua tentara Israel yang ditawannya. Tetapi Israel melihatnya sebagai peluang untuk menghancurkan Hizbullah. Kekuatan militer pun digelar. Targetnya: membebaskan dua tawanan dan menghancurkan infrastruktur militer Hizbullah. Hasilnya: gagal total. Dua sandera tidak berhasil dibebaskan. Kekuatan militer Hizbullah pun masih menjadi ancaman besar buat Israel.

Adu canggih intelijen juga berlaku dalam perang ini. Sebuah laporan menyebutkan bahwa Hizbullah berhasil menanam perangkat intelijennya yang bekerja dengan sangat rahasia di dalam Israel. Maka seluruh keputusan pergerakan militer : kapan harus melepas rudal, kapan menyergap, kapan mundur, mana saja target sasaran dan seterusnya, dibuat berdasarkan informasi intelijen yang akurat. Sementara itu, beberapa kali, tentara Israel menyerang rumah sakit, pemukiman rakyat dan fasilitas umum yang disangka salah sebagai tempat penyembunyian senjata Hizbullah atau salah menangkap orang hanya karena bernama Hasan Nasrullah. Bukti-bukti gagal-sukses adu kecanggihan perangkat intelijen ini banyak beredar di televisi atau media-media online berbahasa Arab.

Pada tingkat kekuatan politik, Hizbullah juga pandai berhitung. Dua hari setelah Israel menyerang Lebanon, Saudi Arabia justru menyalahkan Hizbullah. Belakangan, Raja Abdullah, Yordania dan Husni Mubarak, Presiden Mesir, menyampaikan suara senada. Hizbullah dianggap nekat dan tanpa perhitungan menawan tentara Israel yang menyebabkan Israel ngamuk dan menyerang Lebanon. Namun ternyata, poros politik ini segera saja mendapat kontra wacananya ketika Suriah dan --terutama-- Iran mendukung Hizbullah. Di tingkat tekanan massa, politik jalanan di Mesir dan Amman mendesakkan suara yang berseberangan dari suara resmi pemerintahnya. Artinya, Hizbullah berhitung juga soal kekuatan politik di tingkat kawasan dan global dalam setiap pergerakannya. Kini, apapun perubahan politik yang hendak dilakukan di kawasan ini, Hizbullah harus diletakkan sebagai salah satu faktor pertimbangan.

Perang urat syaraf dan perebutan opini publik pun berlangsung tidak kalah sengit dalam perang 33 hari ini. Hasan Nasrullah sebagai ikon utama tampil elegan, gagah, cerdas, fasih dan menggugah menyapa publik dan milisi-nya di medan laga secara teratur di layar kaca. Tujuannya: menguatkan mental kawan dan menghancurkan mental lawan. Untuk itu,Televisi Al-Manar, corong resmi Hizbullah, tampil efektif membela kepentingan Hizbullah. Lebih dari itu, televisi Al-Jazeera di Doha dan Al-Alam di Teheran secara kasat mata 'berpihak' kepada Hizbullah dalam perang ini. Dari sisi media, Hizbullah menang besar dalam perang kali ini.

Sebagai efek berantai, masyarakat Arab semakin yakin bahwa muqawamah (gerakan perlawanan terhadap okupasi Israel-Amerika) adalah satu-satunya pilihan yang tersisa dalam konflik panjang Arab-Israel. Label yang diusung oleh Hizbullah dan Hamas dalam pergumulannya dengan Israel. Sebab segala bentuk kesepakatan politik yang ditandatangani dengan Israel, sejauh ini tidak berhasil menghentikan tindakan brutal tentara Israel yang menghancurkan rumah, menangkapi tokoh-tokoh resistensi di Palestina dan tidak ragu menjadikan rakyat sipil tak berdosa sebagai korban meninggal atau luka-luka.

Bagaimana dengan kekuatan uang?. Sejak awal politik Israel-Amerika adalah bagaimana menjauhkan rakyat Lebanon dari Hizbullah. Bahkan, bagaimana membalik opini massa dari mendukung menjadi menolak Hizbullah. Itulah salah satu sebab tentara Israel membombardir rumah-rumah, jembatan, rumah sakit, bandara yang tidak ada sangkut-pautnya dengan gudang senjata Hizbullah. Targetnya, agar massa menyalahkan Hizbullah karena menjadi penyebab semua kehancuran itu. "Kalau saja Hizbullah tidak memancing amuk Israel, niscaya kehancuran ini tidak terjadi", itulah kira-kira yang diharapkan oleh Israel-Amerika muncul di benak rakyat Lebanon.

Maka ketika gencatan sejata dicapai, Amerika mendapat peluang untuk mengambil hati rakyat Lebanon dengan isu rekonstruksi. Namun apa yang terjadi?. Segera setelah gencatan senjata, Hassan Nasrullah tampil di layar kaca dan mengumumkan bahwa : pertama, seluruh keluarga yang mengalami kerugian oleh sebab perang (diperkirakan antara 15-25 ribu keluarga) akan mendapat dana 12.000 Dolar Amerika per keluarga untuk bisa sewa rumah selama setahun. Kedua, Hizbullah akan membangun kembali rumah-rumah yang hancur sesegera mungkin yang diperkirakan berjumlah 15.000 rumah dengan perkiraan anggaran 30.000 Dolar Amerika per rumah. Bisa dibayangkan betapa besar kekuatan dana Hizbullah. Memang muncul banyak spekulasi soal dari mana sumber dana Hizbullah ini. Banyak yang menyebut bahwa sumbernya adalah kombinasi antara sumbangan para dermawan kaya simpatisan Hizbullah di seluruh dunia dan dukungan dana Iran. Tampak di layar kaca, bagaimana para relawan Hizbullah membagi-bagikan uang dalam dolar kepada para keluarga korban untuk biaya hidup setahun.

Kembali kecerdasan politik, kecepatan bertindak dan kekuatan yang memadai bekerja untuk menutup segala peluang yang bisa dipakai oleh kekuatan Israel-Amerika dan para pendukungnya untuk memenangkan pertarungan. Ala kulli hal, Hizbullah yang resminya berdiri tahun 1982, berhasil menjadi kekuatan yang memiliki perangkat militer, politik, intelijen, keuangan, media, hubungan luar dan ideologi yang memadai untuk bermain di level kawasan, membela tanah Lebanon dari segala bentuk agresi dan serobotan Israel.

Apa pelajaran yang tersisa?. Ya, selain sisi militer dan ideologi, organisasi-organasi keagamaan-kemasyarakatan atau bahkan organisasi politik sekalipun, layak berlajar dari Hizbullah. Bagaimana misalnya menjadikan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan di Indonesia bisa kuat dan mandiri secara prinsip keorganisasian, pendanaan dan media, sehingga peran-peran yang diambil bisa lebih signifikan, baik pada level dalam negeri, kawasan maupun internasional. Tampaknya para aktifis organisasi di dalam negeri perlu bekerja lebih keras untuk membangun kemandiriannya pada seluruh level, tentu dengan tetap berada dalam kerangka aturan main yang disepakati bersama. Kalau musuh kasat mata berupa agresor dan penjajah bersenjata sudah menghilang, bukankah musuh berupa kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan global dan keberingasan imperium oligarki kapitalisme internasional lebih jahat dan berbahaya?.